Setiap tahun, tepatnya pada tanggal 10 Dzulhijjah kita selalu menjumpai event akbar bagi umat Islam yakni Qurban-Adha,. Pertanyaanya, “Sebenarnya apa makna Qurban- adha? Bagaimana Qurban-Adha Sufisme Spiritual Ruhaniyah (Jiwa)?” tentu memahami tersebut perlu pendekatan melalui lingustik bahasa-Arab

Qurab- lafadz dari الــقُرْبُ qurbu..(jarak) Ibnu Manzur dalam lisanul Arab menyampaikan al Qurbu adalah قَرُبَ الشيءُ، بالضم، يَــقْرُبُ قُرْبــاً وقُرْبــاناً وقِرْبــاناً أَي دَنا، فهو قريبٌ-sesuatu yang membawa dekat, hampir dekat..dan sangat sangat dekat…
قرُبَ: فعل
قرُبَ / قرُبَ إلى / قرُبَ من يقرُب ، قرابَةً وقُرْبَةً وقُرْبَى وقُرْبًا ومَقْرَبةً ومَقْرُبةً ، قُرْبَانٌ، قِرْبَانٌ، ، فهو قَريب ، والمفعول مَقْروب
Dimensi arti makna dekat (berkaitan dengan jarak atau antaranya) artinya pendek, tidak jauh, berhampiran atau sangat dekat, bahwa dekat dalam hal ini adalah fisik-lokasi. Kemudian Dekat (berkaitan dengan waktu) artinya hampir atau jelang. Dekat (berkaitan dengan persahabatan atau kekeluargaan/keturunan) artinya akrab, rapat. Dekat (Ruhaniyah-Spiritual) adalah bagaimana kita memahami dan mengimplementasikan makna perintah dan larangan sebagaimana dalam QS Al Baqarah 186
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.
Dimanakah dimensi dekat kita ?……mari kita renungkan….
Lafaz idul adha (عِيْدُ الأَضْحَى) terdiri dari dua kata yaitu ied (العِيْد) dan adha (الأَضْحَى). Lafaz ied sudah umum diketahui artinya adalah kembali, umum bermakna hari raya,. Dan lafadz ini juga sama dipakai pada istilah idul fitri (عِيْدُ الْفِطْرِ), yakni hari raya tanggal 1 Syawwal setelah berpuasa bulan Ramadan. Adapun lafaz adha (الأَضْحَى), lafaz ini berwazan af’alu (أَفْعَل) bentuk jamak dari kata adhat (الأَضْحَاة) yang bermakna Hewan ternak “kambing atau hewan yang dijadikan kurban”. Lafaz adha bisa dijamakkan lagi menjadi adhohi (الأَضَاحِيُّ) yang seperti ini dalam istilah ilmu nahwu disebut dengan nama jam’ul jam’i (جَمْعُ الْجَمْعِ) menjamakkan lagi bentuk jamak, Jadi idul adha secara harfiah hari raya (hewan) kurban, dengan lafadz jamak, mempunyai nilai sufisme transidensi ilahiyah secara totalitas sekaligus tanpa adanya keraguan antara hamba dan khalik, kemudian di hari tersebut menyembelih hewan ternak kurban adalah simbol dari pemusnahan nafsu syahwat hewani (males, iri, dengki, sombong, rakus, pelit kikir, bejat dll) yang melekat pada jiwa kita
Sudahkah kita .,…melepaskan EGOISme Kita…..?